OSLO PUNYA CERITA (Prolog)
Jakarta, 19 Oktober 2019
Aku mulai cerita ini dari dua hari sebelum keberangkatan. Aku masih inget, hari itu Jakarta panas banget! Entah apa yang bikin beda, padahal aku udah sering bolak-balik ke Jakarta untuk urusan skripsi (ehm), lomba, seminar, atau sekedar jalan-jalan. Hari itu ada yang beda dengan panasnya Jakarta. Ohh… ternyata karena itu…. Iya, hari itu aku bawa koper warna ungu ukuran 20 inch. Rasa panas yang beda karena aku bawa barang yang gede banget. Keretaku sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 9 pagi, aku nunggu sebentar sebelum akhirnya pesen GoJek menuju ke Museum Bahari. OMG… kebayang gak aku bawa koper yang super gede dan naik ojek? Ribet sih pasti, tapi yang penting murah, karena kalau harus naik GoCar lumayan mahal, ditambah aku lagi dikejar waktu. Saat itu aku mau menghadiri seminar di Museum Bahari, temanya tentang Si Pitung. Hayooo… tahu gak siapa dia? Apakah dia mitos, legenda, atau sejarah? Jawabannya bakalan aku bahas di tulisan selanjutnya ya. Singkat cerita aku sampai di Museum Bahari. Beberapa temenku juga hadir di seminar tersebut, mereka ketawa-ketiwi ngelihat aku keribetan bawa koper yang gede itu, pas di meja registrasi, panitianya sampe bilang “Mau pindahan ya kak?”, dalem hati aku jawab “Hmm… belum tahu nih orang gue mau pindah ke Oslo (hahahahaaa)”.
Setelah
menikmati suasana kapal dan tersengat panasnya matahari pesisir yang sangat
aduhai, kami menyudahi piknik singkat dan gak jelas itu. Oh iya, salah satu
temenku beli coca-cola yang ukuran 1 liter sama kacang kulit garuda. Helloww…
mungkin dia berimajinasi bahwa tur di pinggir pelabuhan ini akan seindah di
film kali ya, ditemani sunset dan pemandangan ombak yang berdebur. Hahaaa
boro-boro, soalnya kami cuma keliling di seputar galangan kapal aja, yang ada
pemandangan para anak buah kapal yang lagi benerin kapal mereka. Tapi buatku
itu keren banget, kami juga gak lupa buat foto-foto dilatarbelakangi oleh kapal-kapal
nelayan tradisional. Udah mau Azhar, kami semua kembali ke masjid di Menara
Syahbandar. Koperku aman, dan sekitar pukul 5 sore aku menuju ke kosan temenku
di daerah Harmoni dengan naik..... GoJek lagi. Capek deh!
Jakarta, 20 Oktober 2019
Udah
dikasih tahu sebelumnya bahwa kami peserta Our Ocean Youth Leadership Summit
(OOYLS) bakalan kumpul dulu di Jakarta sehari sebelum keberangkatan. Sekitar
jam 3 sore, Kak Tenia bilang di grup WA bahwa kami udah bisa check in di Putri
Duyung Cottage, Ancol. Aku yang udah nyampe di Jakarta duluan langsung otw ke
lokasi, lagi-lagi menggunakan GoJek. Kak Putra, Effan, dan Wawan masih dalam
perjalan ke Jakarta, sedangkan Akbar posisinya masih di Depok. Aku seneng
banget karena kali ini masuk Ancol bukan menuju ke Dermaga Marina lagi,
melainkan ke Putri Duyung Cottage. Aku baru pertama kali ke sana. Cottage itu
semacam villa ya, tapi posisinya di pinggir laut. Kamar cottage nya itu
dibagi-bagi berdasarkan nama-nama ikan dan hewan laut. Aku ada di kamar Kerang
nomor 10, terus ada kamar Tiram, kamar Bawal, dan lain-lain. Oh iya, aku
sekamar sama Effan, sedangkan Akbar sama Wawan, Kak Putra sama Kak Mike. Kak
Airf saat itu masih ada kegiatan, dan baru ketemu besoknya di bandara (asli ini
drama banget, soalnya sempet slow respond Kak Arif nya). Kamar kami semua
posisinya dekat dengan pantai. Aku yang datang duluan otomatis jalan-jalan
duluan. Ada kolam renang, terus ada dermaga kayu yang panjang banget, aku
sempet jalan ke sana sambil nunggu adzan maghrib, sebelum balik lagi ke kamar
dan ketemu Akbar. Sehabis maghrib, Kak Mike datang, disusul Kak Putra, Wawan, dan Effan. Aku lupa Kak Tenia, Kak Kiti, dan Kak Nadhira kapan datengnya, yang pasti kami makan malem bareng-bareng. Oh iya, selanjutnya aku bakalan pake istilah “drama” untuk nyebut kejadian-kejadian lucu, dramatis, dan bermasalah selama perjalanan menuju ke Oslo. Drama pertama itu tentang Kak Arif yang saat H-1 sempat slow respon, kami juga khawatir soalnya Kak Kiti ngasih kabar kalau Kak Arif bakalan ketemu kita di bandara. Drama yang terjadi selanjutnya di Putri Duyung adalah, aku lupa bawa sabuk. Untunglah Kak Mike nerima pesanku dan akhirnya bawain sabuk. Awalnya sempat gak yakin kalau sabuknya muat, ternyata setelah dicoba muat (alhamdulillah), tapi lubangnya gak nyampe. Jadi aku bawa sabuk itu ke restoran dan aku bolongin pakai pisau (hahaaa udah izin yang punya kok). Malam itu aku tidur nyenyak banget, tanpa sadar lupa ngecilin AC dan mulailah bangkit bibit-bibit flu.
Jakarta, 21 Oktober 2019
Sewaktu
pagi, kami semua jalan menikmati udara yang sejuk, terus akhirnya duduk di
pinggir kolam renang. Aku dan Effan udah diniatin mau berenang. Kalau Effan
motivasinya buat konten vlog (maklum subscribersnya perlu konten), kalau aku
karena udah lama gak berenang di kolam renang. Akhirnya nyeburlah kami berdua.
Kak Putra dan Wawan senyum-senyum penuh keraguan, antara mau renang atau
enggak, alasannya gak bawa baju ekstra. Padahal kan masih bisa dijemur wkwkwkw.
Akbar ke kolam renang bawa laptop dong! Entah apa yang merasukimu, mukanya
serius banget. Ternyata dia lagi ngerjain laporan dan tugas-tugasnya sebelum ke
Oslo. Oalah… padahal Pak Presiden bilang “Laporan itu untuk apa, gak ada
gunanya…” hahahaha canda canda. Selepas berenang dan menjemur pakaian luar
dalam, kami dipanggil Kak Tenia ke kamarnya. Jadi….. Kak Tenia ngebawain mantel
buat yang gak bawa. Terus Kak Tenia juga ngebagiin makanan-makanan yang udah di
wadahin kaya abon, sambel terasi, tempe kering balado,dll, ke kami buat
disimpen di dalam koper, katanya dibagi-bagi biar satu koper gak terlalu berat.
Koper Kak Tenia itu beratnya hampir 29 Kg lho! Tahu gak isinya apaan? Ternyata
ada beras, rice cooker, makanan-makanan, plus barang-barang Kak Tenia. Emang
udah diniatin guys buat bawa itu semua, soalnya makanan di Oslo udah diprediksi
gak akan jauh dari ikan, kentang, yang menunya gak bikin kenyang buat perutku
(haha buat perut orang Indonesia maksudnya).
Masih
ada beberapa jam lagi sebelum kami otw ke bandara. Sampai sejauh ini belum ada
drama lagi. Kami berangkat ke bandara sekitar pukul 3 sore, karena pesawat take
off pukul 4 sore lebih. Perlu dicatat ya, untuk kami berempat (Aku, Wawan,
Effan, dan Kak Putra), ini adalah pengalaman pertama kami naik pesawat ke luar
negeri. Kami semua naik maskapai Qatar Airways dengan transit di Doha sebelum
menuju Oslo. Pengecekan bagasi makan waktu cukup lama, soalnya koper kami
ditimbang satu-satu. Untuk penerbangan internasional, batas maksimal berat
koper adalah 30 Kg, dan untuk tas jinjing atau koper kabin itu maksimal 7 Kg.
Alhamdulillah semuanya lancar, kami pun jalan ke waiting room. Sambil nunggu
gate yang belum dibuka, kami berenam minta tolong Kak Mike untuk ngerekamin
video dan motion kami yang pegang bendera Merah Putih. Aku pribadi ngerasa
terharu banget, gak nyangka bisa sampai di titik yang gak pernah dibayangin sebelumnya.
Kami
akhirnya masuk ke pesawat. Effan beberapa kali bilang tentang jenis pesawat,
tapi aku gak ngerti dan ya udahlah ya hahaa. Aku duduk di kursi 30 H, di
sebelah kananku ada Kak Putra, dan yang deket jendela ada orang lain. Di
sebelah kiriku duduk Kak Arif. Oh iya akhirnya Kak Airf datang juga, aku sama
yang lain udah khawatir, takut telat datengnya. Nah di sebelah Kak Arif ada
Akbar, dan di kursi bagian ujung duduklah Effan. Aku lupa Wawan duduk dimana.
Kak Kiti, Kak Tenia, Kak Nadhira, dan Kak Mike duduk dibarisan agak di depan.
Alhamdulillah semuanya lengkap. Pesawat kami pun lepas landas. Ya Allah, dalem
hati aku terharu banget. Selalu bersyukur dan berdoa di setap waktu, meminta
agar perjalanan 8 jam menuju Doha ini diselamatkan.
Aku
dan Kak Putra kenalan dengan orang yang duduk di sebelah kami. Namanya Ahmad,
dia bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Beirut (wowww). Saat itu dia mau
pulang ke Beirut via Doha (habis ada acara gitu katanya di Tangerang). Ternyata Bahasa Indonesianya udah lumayan fasih, jadi
kami ngobrol pakai Bahasa Indonesia aja. Aku bilang ke dia kalau aku tahu
beberapa hal tentang Lebanon, misalnya ibukota Lebanon (which is Beirut), terus
Khalil Gibran kelahiran Lebanon, dan ada museum di Beirut yang didedikasikan
untuknya. Dia kagum dong, dan ngundang
aku buat ke Beirut hahahaa alhamdulilah, kita juga tukeran kartu nama. Siapa
tahu nanti aku ke Beirut (amin).
Sekitar
satu atau dua jam setelah lepas landas, pramugari mulai masuk untuk ngasihin
minuman. Oh iya, ternyata kalau penerbangan internasional itu pramugari atau
pramugaranya gak meragain secara langsung cara pakai pelampung atau pas kondisi
darurat gitu, tapi udah ada di video yang diputar di layar masing-masing kursi
penumpang. Emang gitu atau cuma Qatar Airways doang ya hahah? Monmaap baru
pertama kali. Minuman favoritku selama penerbangan off course jus mangga.
Kadang-kadang iseng sih minta coca-cola atau teh, cuma buat ngomong Bahasa Inggris
aja sama pramugarinya wkwkwk apaan sih yak. Untuk menu makanan, lumayan
enak-enak dan variatif. Oh iya, ada drama lagi nih. Jadi aku kan mau pesen mi
telur sama daging (intinya pesen mi goreng gitu), tapi kata pramugarinya udah
habis, ya udah aku dikasih semacam steak. Lumayan enak sih, aku cuma makan
dagingnya doang deh. Pas udah setengah makan, pramugarinya datang lagi
nyamperin aku. Dia bilang kalau ternyata di belakang masih ada sisa untuk menu
mi goreng, dan dia ngasih itu ke aku. Dia bilang “You can take it if you want”,
terus aku jawab “Off course I’ll take it”. Hahaa jadilah aku makan dengan dua
menu, kayanya aku doang deh di antara penumpang lain yang dapet dua menu.
Alhamdulillah, rezeki anak yang gak sholeh-sholeh amat.
=== BERSAMBUNG ===













Aahhh seru campur aduk, lucu dan terharu bacanyaaa bang gilang 😂 baca sambil ngebayangin drama2 itu bikin ketawa, sekejap mataku berkaca-kaca. Sukses terus bang, ditunggu cerita menarik selanjutnya. Semoga bisa mengikuti jejak abang2 kece ini 👍👌😊
BalasHapuswaah kereeen ;) ceritanya seru. ga nyangka si akbar mahasiswa teladan keknya hihi
BalasHapusNgakak aku bang bacanya. Lanjutkan menulisnyaaa 😁👍
BalasHapus