OSLO PUNYA CERITA (Bagian 3)
Oslo, 22 Oktober 2019 (Siang-Sore)
Suasana
siang hari di Oslo berasa kaya pagi hari, gak panas tapi langitnya cerah. Kami
jalan ke halte bis deket Nationaltheatret. Dari sana kami naik bis (aku lupa
rutenya apa, soalnya namanya susah gitu) ke ujung. Sebenernya mungkin perasaan
aku doang kali ya kalo bisnya itu jalannya ke ujung, tapi pas sampai di museum,
bisnya itu puter balik, karena di depan udah laut. Kami nyampe di Norsk
Maritimt Museum atau Museum Maritim Norwegia. First impression, modern banget
museumnya! Sebenernya ada satu museum yang udah aku incer buat dikunjungi,
namanya Viking Ship Museum, tapi kami gak sempet ke sana. Aku sih masih ngarep
kalau di dalem museum ini bakalan ada pameran tentang Viking juga.
Sebelum
masuk ke museum, kami bersepuluh foto dulu, ada turis Australia yang baik
banget nawarin buat motion kami. Habis foto, kami melipir sebentar ke deket
laut. Di sana ada semacam kursi-kursi gitu sama bangunan kaya mercusuar kecil
yang dibuat dari sampah plastik dan jaring nelayan. Di sana juga ada patung penjelajah Norwegia. Di kejauhan aku ngelihat ada kapal-kapal layar
kecil berjejer, persis kaya di film “Finding Nemo”. Anginnya kenceng banget,
aku yang udah mulai ngerasa idung mampet masih aja dipaksain buat foto-foto
bareng Akbar (kamera HP nya Akbar bagus, jadi kadang aku suka gantian ngefotoin
pakai HP dia wkwkwk).
Setelah
pintu masuk, ada café yang cozy banget (pokoknya tempat nongki gitu) di samping
meja resepsionis. Pegawai museumnya pakai baju santai, gak pakai seragam atau
kemeja gitu kaya pegawai museum di Indonesia. Di deket resepsionis juga
sekalian ada toko cinderamata khas Norwegia, kaya kartu pos, boneka rusa
(raindeer), beruang kutub, bendera Norwegia, buku-buku sejarah, dan lain-lain.
Semuanya bagus, tapi harganya mahal banget. Aku mikir nanti aja ngeluarin
uangnya, masih banyak yang mau dieksplor dulu. Kami masuk ke ruang pameran. Aku
bener-bener déjà vu sama ruang pamerannya, karena mirip banget dengan Museum
Maritim Indonesia yang di Pelabuhan Tanjung Priok. Sekitar tiga minggu sebelum
ke Oslo aku main dulu ke museum itu, jadi bener-bener masih inget. Konsep
Museum Maritim Norwegia ini juga hampir sama kaya yang di Indonesia,
menjelaskan tentang sejarah pelabuhan dan kapal-kapal dari masa tradisional ke
masa modern, yang paling mirip adalah pameran kapal-kapal modern nya, kedua
museum ini sama-sama ngejelasin tentang modernisasi kapal, teknologi apa yang
digunakan, dan jenis-jenis kapal. Bisa jadi Museum Maritim Indonesia yang
dibuka bulan Desember 2018 ini terinspirasi tata letak pameran dan timeline nya
dari Museum Maritim Norwegia. Gak salah sih, justru bagus karena belajar dari
yang udah berpengalaman. Oh iya, ternyata ada juga replika kapal bangsa Viking,
itu loh yang ujung kapalnya melengkung kaya sepatu Aladdin, alhamdulilllah
kesampean juga lihat kapalnya. Kami ngelanjutin kunjungan dengan nonton film dokumenter
di ruang teater. Teaternya keren, tapi sayang film yang diputer kayanya
produksi lama, kelihatan dari kualitas gambarnya. Aku jadi inget pernah ke
Candi Prambanan sekitar tahun 2015 dan nonton film di teater mininya, film yang
diputer itu diproduksi tahun 90-an, haduh jadi kurang menarik. Tapi kalau main
ke Museum Gedung Sate, film yang diputer itu produksi terbaru, bahkan udah
ganti film lagi semenjak dibuka tahun 2017. Jadi jangan pesimis duluan sama
Indonesia ya, kita kadang ketinggalan di belakang, tapi sering juga di depan
kok. Di dalem teater itu ada anak-anak kecil Norwegia yang lagi kunjungan,
ditemenin sama guru mereka. Aku udah sempet ngelihat mereka sekilas di depan
tadi, mereka pakai rompi yang kaya polisi gitu, warna-warna stabilo (mungkin
biar gak ilang kali ya, atau kalo nyelip bisa ketahuan hahaha). Mereka
lucu-lucu banget! Sebenernya pengen banget nengok ke mereka dan bilang hai,
tapi aku dikasih tahu sama Kak Tenia kalau anak kecil jangan di foto, mau di
negara mana pun (make sense sih, soalnya kan orang asing, jadi gak boleh lah
ngefotoin anak kecil, privasi dan gak etis aja). Akhirnya gak jadilah aku mau
sekedar nengok dan berinteraksi sama mereka.
Museumnya
terdiri dari tiga lantai, lantai dasar dan dua lantai di atas. Di lantai dua
itu ada koleksi pameran tentang bangsa Viking, sama sejarah kehidupan
masyarakat Norwegia yang umumnya juga masyarakat maritim. Di antara lantai dua
dan lantai tiga ada perpustakaan. Temboknya banyak dari kaca, jadi seolah-olah
luas. Koleksi bukunya kelihatan banyak, dan enak buat baca kayanya. Aku sama
Akbar sempet foto-foto di depan situ, tapi kami gak masuk ke dalem, soalnya
kalau masuk ke dalem kami cuma niat mau foto-foto doang, bukan niat baca atau
ngerjain penelitian, gak enak sama pengunjung lain. Di lantai tiga ada replika
kabin kapal Eropa yang keren banget, oh iya di lantai dua juga ada, tapi itu
bagian bawah kapal buat tempat tidur awak kapal dan barang-barang yang
disimpen. Di lantai tiga kami foto-foto di sudut ruangan yang latar belakangnya
laut. Kayanya sejuk banget udaranya, jadi pengen tiduran.
Sebenernya
ada museum lain di dekat situ, tapi kami gak masuk ke sana karena udah laper
belum makan siang. Kak Tenia juga bilang masih banyak yang mau dikunjungin, jadi
jangan ke museum yang di sebelah itu, karena kemungkinan koleksinya masih
berkaitan sama kemaritiman. Kami akhirnya menuju ke perjalanan selanjutnya,
restoran. Ternyata Kak Kiti udah ngatur janji sama mahasiswa perwakilan PPI
Oslo. Kami naik bis dan berhenti di kawasan yang kayanya banyak restoran Asia.
Setelah ketemu sama mahasiswa PPI Oslo ini, kami akhirnya makan di restoran
Turki, namanya Istanbul Restaurant (sedikit kecewa karena sebenernya pengen
nyobain masakan Norwegia, cuma karena harus merhatiin kehalalannya, akhirnya
pilih restoran ini). Kami duduk di pojokan, restorannya mendadak jadi rame dan
berisik hahaha, maklum rombongan. Oh iya, kakak mahasiswa PPI Oslo ini namanya
Kak Oemar, dia mahasiswa jurusan teknik di University of Oslo. Sambil nunggu
makanan datang (makannya dibayarin sama DCA yeay) kami ngobrol-ngobrol bareng
Kak Oemar (aku asumsikan nulis namanya gitu, soalnya di instagramnya ditulis
kaya begitu) tentang perkuliahan di Oslo. Jadi, pendidikan di Norwegia itu
gratis tis tis dari TK, SD, SMP, SMA, sampe kuliah. Kak Oemar sendiri bisa
kuliah di Oslo bukan karena beasiswa, tapi karena ngelihat kesempatan itu. Cuma
ya biayanya hidup di Oslo itu mahal banget. Kita juga nanya-nanya tentang
pengelolaan sampah di Oslo kaya gimana. Ternyata di Oslo sistem manajemen
sampahnya udah bagus dari hulu ke hilir. Di asrama atau apartemen tempat
tinggal Kak Oemar juga udah diterapin pemilahan sampah, dan petugas yang
ngambil sampahnya juga gak perlu ribet-ribet lagi karena tempat sampahnya udah ada
khusus buat setiap jenis sampah (wow keren!). Eh makanannya dateng nih! Aku
pesen daging kambing yang kaya di MasterChef gitu (namanya rack of lamb deh),
sama nasi dan ada semacam salad (gak dimakan saladnya). Porsinya gede dan
banyak banget, alhamdulillah aku jadi cukup pesen sepiring doang. Kak Tenia
pesen ikan, terus Effan pesen kebab tapi aneh bentuknya karena daging sama
sayurannya misah-misah gitu, terus yang lain pesen daging juga, aku lupa apa
aja namanya. Alhamdulillah perut kenyang, kami keluar dari restoran dan mau ke
“Kiwi”, supermarket kaya Griya atau Yomart gitu. Oh iya, pas di jalan aku baru
nyadar kok aku kaya bau kambing ya setelah keluar dari restoran tadi wkwkwk.
Sebenernya kami ke Kiwi karena mau lihat trashbag yang dijual, kata Kak Oemar
kalau beli trashbag itu, total biaya belanjaan kita bakal dikurangin 1 NOK,
lumayan lah ya. Oh iya, mumpung lagi di supermarket, aku nyempetin buat beli
shampoo titipannya Aulia (mentorku pas IYMDS). Entah apa spesialnya shampoo itu
sampai harus nitip beli di Oslo. Harga shampoonya 22 NOK, yang bayarnya Akbar
wkwkwk (aku yang maketin ke Aulia di Semarang).
Kami
langsung ngelanjutin jalan-jalan singkat ini ke Nobel Prize Museum. Tahu kan kalau
Alfred Nobel itu kelahiran Oslo? Nah, di museum itulah setiap tahunnya para
peraih Nobel diumumkan. Lokasinya gak begitu jauh dari restoran tadi. Nobel
Prize Museum letaknya di deket laut banget, di depannya ada dermaga kapal feri.
Kami nyampe di sana sekitar pukul 3 sore. Arsitekturnya dari luar bagus, ada
tulisan Nobel Prize Museum di atasnya. Pas masuk dan mau beli tiket, kami semua
ditanya apakah masih mahasiswa, terus Kak Tenia jawab masih, yang lain juga
ngangguk-ngangguk. Pegawainya senyum simpul, sambil nengok ke aku dan bilang
“Are you sure?”, terus kita jawab barengan “Yes sure!’ hahaha. Pegawainya lebih
keren lagi penampilannya, cuma pakai kaos hitam, pakai anting, rambutnya
dicukur cepak mirip tentara gitu, dan kumisnya tebel wkwkwk, santai banget kan!
Museumnya terdiri dari dua atau tiga lantai (aku lupa), di lantai dasar itu ada
tempat buat gantungin mantel dan loker kecil buat naro sesuatu punya
pengunjung. Aku yang terlalu semangat malah masukin mantelku ke loker itu,
padahal kan harusnya di hanger aja.
Di sebelah tempat nyimpen mantel ada toko cinderamata (kayanya emang teknik pemasarannya gini deh, biar pengunjung kalau keluar masuk harus ngelewatin tokonya dulu). Terus ada pameran tentang iklim. Selain dalam rangka Our Ocean Conference, Norwegia kan juga tetangganya Swedia, negara asalnya Greta Thunberg, itu loh aktivis perubahan iklim muda yang baru 16 tahun. Di awal Oktober kan sempet ada gerakan tentang perubahan iklim, nah pameran itu dibuat juga dalam rangka hal itu. Ada semacam wall of hope, kami nulis harapan kami tentang dunia dan masalah iklim di kertas yang udah disediain, terus digantung di situ. Di lantai dua koleksinya seputar penerima Nobel, profil-profil mereka, dan apa yang mereka kerjakan sehingga bisa dapet Nobel. Aku inget ada Malala Yousafzai, Aung San Suu Kyi, dan penerima Nobel 2019 dari Ethiopia (aku lupa namanya). Pamerannya lebih banyak kaya informasi-informasi gitu, tapi ada juga foto-foto dan video. Akhirnya kami turun dan mutusin buat balik ke hotel. Sebelum pulang, kami nyempetin lihat-lihat cinderamata dulu, meskipun gak beli hahaha. Kami juga foto di depan gedung museumnya sambil megang bendera Indonesia. Alhamdulillah bangga banget rasanya. Kak Oemar pamit karena rute dia beda sama kami. Sore itu bener-bener berkesan, meskipun baru secuil menjelejah Oslo, tapi membekas banget. Kami pulang naik kereta ke Sentrastasjion yang jaraknya deket ke hotel. Selama perjalanan kami juga foto-foto (Effan masih tetep nge-vlog), dan kadang-kadang berhenti buat ngambilin daun maple yang berguguran wkwkwk. Waktu kami istirahat di hotel gak lama, soalnya harus siap-siap lagi karena jam 7 malem harus ke acara welcoming ceremony di Stratos Café.
===== BERSAMBUNG =====

























Komentar
Posting Komentar